Sepak Bola Indoensia Tanpa Intervensi = Prestasi


Sepak Bola Indonesia Tanpa Intervensi = Prestasi



Masih ingat dengan kebesaran nama PSMS Medan? Tim yang pernah 5 kali juara Perserikatan ini sedang berbenah setelah berhasil kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia, walaupun tidak menjadi juara di gelaran Liga 2 2017 namun permainan cepat ciri khas “ayam kinantan” kembali terlihat setelah ditangani oleh pelatih yang bisa dianggap pelatih lokal cukup sukses di sepak Indonesia yaitu Djajang Nurjaman. “Djanur” pernah membawa Persib Bandung menjadi juara saat dia menjadi pemain, asisten pelatih dan yang terakhir pada tahun 2014 saat ia menjadi pelatih kepala tim “Maung”.

Artikel ini tidak akan membahas 2 tim papan atas tersebut, namun akan lebih membahas sosok “Djanur” sendiri. Pelatih ini bisa dibilang sukses, namun kejadian pahit harus diterima setelah Persib berhasil menjuari ISL 2014 dan Piala Presiden Pertama. Performa Persib di bawah asuhan Djanur semakin menurun, puncaknya adalah saat gelaran GTL1, dimana akhirnya Djanur memutuskan mengundurkan diri, setelah sebelumnya pengunduran dirinya yang pertama tidak disetujui.

Kasus Djanur ini banyak diangkat oleh berbagai media, hampir semua media (hampir itu tidak semua ya) mengindikasikan adanya intervensi dari pihak manajemen Persib Bandung itu sendiri. Beberapa dari anggota Viking dan Bobotoh juga ada yang berspekulasi bahwa manajemen ini tidak memberikan keleluasaan bagi Djanur untuk menjalankan tugasnya sebagai pelatih atau bisa disebut intervensi. Sosok yang paling terlihat dan sering dikaitkan dalam permasalahan ini adalah Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar. Harus diakui memang, setelah dipegang oleh “Wak Haji” Persib bisa dibilang menjadi Los Galacticos-nya Indonesia dalam beberapa periode. Persib juga berhasil menjadi juara Liga Indonesia untuk yang ke-2 kalinya. Namun, bersama Wak Haji pula Persib banyak mendapat cibiran, karena dianggap selalu ikut campur dalam urusan pemilihan pemain (seharusnya yang memilih pemain itu pelatih). Beberapa orang menganggap intervensi yang dilakukan Wak Haji Umuh ini yang mempengaruhi penurunan prestasi Persib di GTL 1 2017. Puncaknya adalah pengunduran diri Djanur yang meruapakan pelatih yang membawa Persib juara tahun 2014.

Selang beberapa bulan setelah pengunduran dirinya, Djanur dipinang oleh PSMS untuk menahkodai tim “Ayam Kinantan” dalam perjalanan di Liga 2 2017 menuju Liga 1 2018. Djanur sukses membawa PSMS melaju hingga final Liga 2, yang otomatis membawa PSMS promosi ke Liga 2. PSMS akhirnya berjumpa dengan Persebaya di final Liga 2 saat itu, hasil akhir pun berpihak kepada Persebaya dan memaksa Djanur bersama PSMS berada di urutan ke-2.

Untuk mengawali Liga 1 2018 ini diselenggarakan turnament pramusim Piala Presiden, dimana PSMS menjadi salah satu pesertanya, dengan Djanur masih menjadi nahkoda, bersama Persib, Sriwijaya FC, dan PSM mereka bergabung di grup A yang diselenggarakan di Bandung kota yang penuh sejarah untuk Djanur sendiri. Pertemuan pertama menghadapi PSM saat itu PSMS mampu menang 2 – 1, selanjutnya di petandingan ke-2 pertandingan yang ditunggu banyak orang termasuk Djanur, pertandingan bertajuk kembalinya El clasico Indonesia, Persib vs PSMS. Pertandingan berjalan sangat seru memang, namun Persib sebagai tuan rumah pun tak mampu mengalahkan PSMS yang merupakan tim promosi, dengan pelatih yang sebelumnya juga menjadi pelatih Persib sendiri. Mungkin beberapa dari kita dapat melihat ekspresi dari Djanur saat disorot oleh kamera, dia senang dengan 2 gol yang dicetak anak asuhnya, namun sepertinya juga ada kekecewaan yang terlihat karena Persib harus kalah.

Dengan kekalahan Persib tersebut dapat dilihat bagaimana seorang Djajang Nurjaman alias Djanur seperti leluasa dalam menanagani sebuah tim, tanpa intevensi berlebihan dari manajemen ia mampu membawa PSMS sampai ke semifinal Piala Presiden dan akan berjumpa Persija Jakarta yang akan berlangsung di Stadion Manahan Solo pada 10 februari 2018 dan 12 februari 2018.

Patut kita tunggu bagaimana racikan Djanur yang sebenarnya bersama PSMS saat melawan Persija nanti, apakah akan terus melaju sampai final dan menjadi juara untuk pertama kali, atau akan terhenti di semifinal.


Komentar