Ini Bukan Lagi di Indonesia Tapi Asia Persijaaa!!!


                Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Persija adalah juara Gojek Liga 1 2018. Terlepas dari merebaknya kasus match fixing pada kompetisi tahun lalu tapi tetap harus kita akui bahwa Persija memang pantas menjadi juara. Persija pantas juara? Ya memang, karena jika dilihat komposisi klub ibu kota tahun lalu memang pantas jika mereka berhasil menyabet juara Gojek Liga 1, tak hanya itu, mereka juga berhasil membawa pulang Piala Presiden 2018 dan Super Boost Cup 2018 Malaysia, itu tandanya memang mereka pantas menjadi juara.

                Tahun lalu memang Persija cukup superior, selain menyabet 3 gelar juara, mereka juga bermain di AFC Cup 2018 dan berhasil mencapai semifinal zona Asean, sebelum akhirnya kalah dari wakil Singapura Home United (Fyi, Home United juga menjadi lawan pertama Persija di play off ACL 2019). Capaian – capaian ini tidak terlepas dari kekompakan yang telah terbangun 1 tahun lebih di Persija antara pemain, pelatih dan manajemen.

                Permasalahan kini muncul di awal musim 2019. Liga memang baru akan dimulai pada Mei 2019 (setelah Pemilu), tapi bagi Persija, tim ini harus sudah terbentuk sebelum 21 januari 2019, dimana dihari tersebut tim – tim di play off ACL sudah harus menyerahkan nama – nama pemain yang akan bertanding. Sedangkan Persija sendiri baru awal Januari menyiapkan pemain – pemain yang akan dikontrak dan akan dilepas.

                Apabila dikatakan mepet, memang kondisinya saat ini mepet, sehingga itu menjadi salah satu alasan manajemen untuk merekrut pemain – pemain baru, karena beberapa pemain lama (contoh Rohit Chand) sulit untuk dihubungi. Dikatakan oleh Dirut Persija Gede Widiade bahwa Rohit sebelumnya telah setuju untuk datang 5 januari, namun hingga latihan perdana 7 januari 2019 yang bersangkutan tidak kunjung datang dan akhirnya Persija memilih salah satu gelandang Timnas Uzbekistan Jahongir Abdumuminov untuk menggantikan posisi Rohit, dengan alasan Persija harus segera mendaftarkan pemain ke AFC.

                Sebenarnya bisa saja kasus ini tidak dibuat sulit dan mepet seperti yang terjadi saat ini apabila manajemen mau melakukan kontrak pemain sebelum selesainya musim 2018. Seperti di eropa, kompetisi musim sebelumnya belum selesai tetapi pemain sudah mendapat kejelasan kontrak untuk musim depan apabila kontraknya sudah hampir habis. Hal yang terjadi di Indonesia, kontrak pemain ditunggu hingga habis, baru setelahnya akan dibicarakan kontrak, apakah lanjut atau tidak. Kontrak yang pasti dapat menjaga pemain dari klub lain (seperti contoh Jaimerson dan pelatih Teco) dan harga pemain atau pelatih tidak akan melambung terlalu jauh apabila negosiasi dilakukan saat kompetisi masih berjalan.

                Kondisi Persija saat ini memang belum bisa kita ketahui secara pasti, Pelatih juga baru akan datang. Hasil yang benar – benar dapat kita lihat adalah Charity Games di Lampung kemarin, dimana menghadapi Pra Pon saja, yang katanya juara Liga 1 hanya mampu menang 1-0 saja, apalagi nanti di play off ACL?

                Untuk Persija, mereka tidak perlu untuk mendatangkan pemain – pemain bintang seperti Madura United, mereka hanya perlu mempertahankan skuad juara musim lalu saja sebenarnya. Tapi kondisi saat ini, dimana para pemain juara telah meninggalkan ibu kota, dan pemain lokal yang direkrut pun hanya sekelas liga 2, apakah Jakmania masih boleh untuk berharap Persija berbicara banyak di ACL 2019?

Komentar